Univoxpops

Waspada Bullying Sejak Dini

Pinterest LinkedIn Tumblr

Ketika mendengar kata penindasan, apa yang ada di benak anda? Lalu bagaimana jika yang melakukan tindakan tersebut merupakan seorang anak-anak? Apa terasa mustahil? Mungkin tidak, karena saat ini banyak beredar berita mengenai tindakan penindasan yang melibatkan anak-anak dan mirisnya juga melibatkan anak yang masih berusia dini sebagai korban bahkan juga sebagai pelaku. Penindasan dan tindakan mengintimidasi merupakan perilaku yang sering kita dengar dengan kata bullying. Perilaku yang mengacu ke arah kekerasan ini tak jarang dilakukan oleh anak yang masih berusia dini (usia 0 hingga 8 tahun) dengan teman sebayanya. Kepada Rizky Ayu, jurnalis Unipedia, ada 11 orang yang menyampaikan pendapatnya seputar “Bullying pada Anak Usia Dini”.

11 orang diantaranya adalah Digi (22) mahasiswa asal Malang, Alika (22) mahasiswi asal Malang, Veby (20) freelance makeup asal Malang, Pandu (22) freelance asal Malang, Rachel (16) pelajar asal Malang, Dyah (50) Ibu rumah tangga asal Malang, Yopilla (27) Wirausahawan asal Malang, Anang (28) pekerja swasta asal Malang, Losi (30) Ibu rumah tangga asal Malang, Ragastya (26) pekerja swasta asal Malang, dan Wabella (23) mahasiswi asal Jambi.

Apa yang anda ketahui tentang bullying?

Digi: Penindasan terhadap satu orang yang tersudutkan.

Alika: Suatu tindakan yang dilakukan beberapa orang untuk menyakiti orang lain dengan cara kejerasan. Bisa kekerasan fisik ataupun kekerasan verbal.

Veby: Bullying itu ketika seorang anak dikucilkan dari teman-temannya sering digangguin atau bisa jadi melakukan kekerasan.

Pandu: Tindakan atau perilaku yang dilakukan terhadap seseorang untuk mengganggu, mengintimidasi, melecehkan atau menyakiti dan dilakukan berulang kali.

Rachel: Bullying adalah tindakan menindas orang yang lemah dalam bentuk perkataan maupun perbuatan yang berdampak kepada orang yg terbully bisa mental atau fisik.

Dyah: Bentuk tekanan terhadap mental seseorang yg dilakukan oleh beberapa orang.

Yopilla: Penindasan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap satu individu yang dirasa lebih lemah.

Anang: Perlakuan tidak terpuji yang dilakukan sebuah kelompok terhadap satu orang yang tidak berdaya.

Losi: Sesuatu yang dilakukan untuk mengejek/mengolok olok/menindas satu orang yang lemah.

Ragastya: Suatu tindakan penindasan yang dilakukan suatu kelompok terhadap satu individu.

Wabella: Penindasan

Apakah anda pernah melihat aksi bullying yang dilakukan oleh anak usia dini (0-8 tahun)? Jika pernah, dimana kejadian tersebut?

Digi: Pernah, di jalan.

Alika: Tidak pernah.

Veby: Pernah, di film dan media sosial.

Pandu: Pernah, di media sosial.

Rachel: Pernah, di Sekolah.

Dyah: Tidak pernah.

Yopilla: Pernah, di sekitar Sekolah.

Anang: Pernah, di sekitar rumah.

Losi: Pernah, di media sosial.

Ragastya: Pernah tetapi tidak secara langsung, di video yang tersebar melalui media sosial.

Wabella: Tidak pernah.

Apa yang akan anda lakukan jika melihat seorang anak (usia dini) melakukan aksi bullying terhadap teman sebayanya?

Digi: Melerainya.

Alika: Menegurnya dan mengatakan tindakan yang mereka lakukan salah.

Veby: Jadi penolong buat anak yang dibully dan lapor orang tua yang membully.

Pandu: Memberi teguran terhadap pelaku bullying.

Rachel: Saya menegurnya, menasihati bahkan kalau tindakan itu disekolah melapor pada guru.

Dyah: Menghentikan.

Yopilla: Menegur dan melerainya.

Anang: Memarahi anak yang melakukan lalu melerai.

Losi: Menegur mereka yang membully.

Ragastya: Melerai menegur dan jika mungkin akan membawa si pembully ke pihak yang berwenang.

Wabella: Menegur dan memisah.

 

Beberapa faktor yang menyebabkan seorang anak melakukan tindakan bullying disampaikan oleh Moch Ja’far Sodiq., S.Psi, Staf Laboratorium Psikologi Universitas GajayanaMalang.Faktor yang pertama ialah faktor individu, kedua faktor lingkungan yakni keluarga dan sekolah dan yang ketiga adalah faktor media. Pada usia dini yakni ketika memasuki masa TK (Taman Kanak-Kanak) dan SD (Sekolah Dasar) anak-anak memang masih mengembangkan keterampilan emosional, kognitif dan sosial yang diperlukan untuk menangani konflik dengan teman sebayanya saat mereka bersama. “Contohnya, anak-anak akan cenderung bersikap agresif saat mainannya diambil secara paksa oleh temannya dengan cara mendorong atau perilaku agresif lainnya, hal itu masih wajar” ungkap Jafar. Akan menjadi tidak wajar bila perilaku tersebut berubah menjadi perilaku intimidasi yang ditandai dengan niat ingin menyakiti, niat untuk berkuasa dan bahkan jika anak tak segan untuk melakukan kekerasan terhadap anak lain. Anak usia dini juga cenderung meniru perilaku orang tuanya, orang dewasa disekitarnya dan juga dari acara televisi maupun tontonannya di media lain yang menunjukkan perilaku bullying atau perilaku intimidasi yang mengarah pada kekerasan.

Mengidentifikasi sejak dini ciri-ciri anak yang menjadi korban maupun pelaku bullying merupakan langkah awal untuk mencegah terjadinya hal yang lebih fatal di kemudian hari. Dipaparkan pula oleh Jafar, bahwa seorang anak yang telah mendapat perlakuan bullying akan terlihat sedih, kehilangan nafsu makan, mengalami kecemasan, mengompol, menolak pergi ke sekolah, menunjukkan perilaku agresif, mengalami perubahan perilaku dari riang menjadi lebih pendiam dan tak jarang juga terdapat barang yang hilang atau pakaian yang kadang terlihat sobek setelah pulang sekolah.

Sedangkan seorang anak yang telah menjadi pelaku bullying memiliki ciri-ciri umum seperti mudah frustrasi dan memiliki sifat agresif, memiliki masalah pengasuhan atau masalah di rumah (orang tua atau pengasuh), berpikirian buruk kepada teman sebaya atau orang lain, anak yang kesulitan mentaati peraturan dan memandang kekerasan sebagai sesuatu yang baik.

Kepada Unipedia, Jafar juga menyampaikan beberapa hal yang perlu diajarkan sedini mungkin kepada anak agar ia tidak menjadi pelaku maupun korban bullying. Beberapa hal diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Membangun konsep diri yang baik

Konsep diri adalah bagaimana anak memandang dirinya. Untuk itu anak perlu diajarkan agar memiliki pandangan diri yang baik. Hal tersebut dapat diawali dengan menciptakan lingkungan yang suportif di keluarga.

  • Dukung minat dan bakat anak

Hal ini dilakukan untuk membangun kepercayaan diri anak dan membuat dirinya merasa mahir di bidang tersebut. Sehingga, ketika suatu saat anak menjadi korban bullying dan dijauhi sekelompok anak tertentu, ia cenderung tak memandangnya sebagai masalah dan bisa bergaul dengan teman-temannya yang lain.

  • Ajar anak mengatakan “tidak”

Anak korban bullying seringkali ada di posisi yang tidak berdaya dan cenderung tidak bisa menolak perlakuan buruk terhadapnya. Untuk mencegah hal itu, orangtua bisa mengajari anak untuk berani mengatakan “tidak”. Sehingga ketika anak diperlakukan tidak baik, ia bisa mengatakan bahwa ia tidak suka dengan perlakuan tersebut.

  • Beri dukungan penuh

Orangtua juga perlu terus menekankan pada anak bahwa mereka akan terus mendukung anak, apapun kondisinya. Buat anak merasa nyaman untuk menyampaikan masalah yang dihadapinya di luar. Sehingga ketika anak berhadapan dengan seseorang, mereka tahu akan selalu mendapatkan dukungan dan diterima oleh orangtuanya.

  • Mencegah anak jadi pelaku

Tak jarang pelaku bullying merupakan seorang yang pernah menjadi korban bullying. Maka hal yang perlu dilakukan adalah mencegah anak menjadi pelaku bullying dengan cara tanamkan dalam diri anak bahwa mereka bisa menjadi hebat tanpa harus menjatuhkan dan merendahkan orang lain.

  • Bangun rasa empati

Membangun rasa empati pada diri anak juga bisa mencegah dirinya menjadi pelaku bullying. Sering mengajak anak melihat orang-orang dengan kondisi kehidupan yang lebih sulit dan mengajak mereka untuk mau berbagi. Buat anak mau mengungkapkan pendapatnya jika berada pada posisi orang yang mengalami kesulitan. Misalnya, dalam kasus bullying. Buat anak berpikir jika mereka ada di posisi korban bullying dan tanyakan apa yang mungkin mereka rasakan jika ada di posisi korban. Hal-hal seperti itu dipancing dari anak sehingga anak punya rasa empati. Rasa empati terbangun tidak dalam waktu singkat. Empati perlu ditanamkan secara berkala dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lingkungan menjadi salah satu faktor terpenting yang dapat mempengaruhi seorang anak dapat menjadi pelaku maupun korban bullying. Sehingga, sedini mungkin orang tua perlu menentukan dan membentuk lingkungan sosial yang sehat untuk mendukung perkembangan perilaku yang baik bagi anak. (KKY)

Sumber Gambar : cnnindonesia.com

Rizky Ayu
Author

Write A Comment