Univoxpops

SPP Gratis? Merugikan atau Menguntungkan?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sumbangan Pembinaan Pendidikan atau yang lebih dikenal dengan kata SPP merupakan uang biaya bulanan yang harus dibayarkan oleh murid ke sekolah sebagai bentuk pembayaran atas jasa dan fasilitas yang di dapatkan. Tapi, bagaimana jadinya jika SPP menjadi ditiadakan? Apakah mengganggu fasilitas pendidikan yang di dapat? Atau justru malah menguntungkan? Kepada Bunga Nadzifa, jurnalis Unipedia, sebanyak 10 orang menyampaikan pendapatnya mengenai “SPP Gratis”.

Sepuluh diantaranya adalah Zuhriyatus Sa’diyah (30) IRT asal Tumpang, Cia (24) Pekerja Kantoran asal Malang, Wahyu Fenty (21) Mahasiswi asal Lamongan, Windy (28) IRT asal Sidoarjo, Farida Muchrimah (49) Guru SMPN 1 Pakis asal Tumpang, Intania Putri (22) Mahasiswi asal Malang, Mardiana (26) Guru SDN Tlanak 2 asal Lamongan, Machmud Fauzi, M.Pd (56) Guru SLB-C Negeri Pembina asal Banjarmasin, Mulyani, S.Pd (55) Guru SLB-C Negeri Pembina asal Banjarmasin dan Dra. Lili Hidayati (52) Guru MAN 2 Seram asal Ambon.

Apakah anda setuju dengan adanya SPP gratis? Berikan alasannya.

Zuhriyatus: Tidak, karena nantinya bisa kurang maksimal terhadap pendidikan anak.

Cia: Ya, karena akan meringankan biaya sekolah.

Wahyu Fenty: Ya, karena spp gratis sangat membatu bagi anak dari keluarga yang tidak mampu. Apalagi sekarang sekolah negeri di desa lebih mahal daripada di swasta.

Windy: Tidak, karena untuk membayar jasa guru.

Farida: Ya, sangat setuju untuk sekolah negeri karena semua kegiatan siswa sudah diberikan dana BOS dan ada juga beberapa daerah diberi dana BOS (bantuan operasional siswa) dari pemerintah pusat dan BOS Da (dari daerah). Tetapi untuk sekolah swasta boleh ada spp tambahan sekedarnya, alasannya guru swasta tidak semua dibayar negara.

Intania: Ya, karena semua orang dari kalangan atas sampai bawah memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan spp gratis bisa sangat membantu bagi masyarakat menengah ke bawah untuk bersekolah.

Mardiana: Ya, karena bisa meringankan pengeluaran orang tua.

Machmud: Ya, meringankan orang tua.

Mulyani: Ya, meringankan beban orang tua.

Lili: Tidak setuju di gratiskan buat semua siswa. Kecuali bagi siswa yang tidak mampu. Itu pun harus kita cek benar keberadaannya.

Menurut anda, apa dampak dari adanya sistem SPP gratis?

Zuhriyatus: Tidak maksimalnya pembelajaran.

Cia: Dampak negatif sepertinya sangat kecil, dampak positifnya semua orang dari semua kalangan ekonomi bisa mendapatkan pendidikan tanpa halangan.

Wahyu Fenty: Dampaknya sangat mensejahterakan masyarakat umumnya masyarakat tidak mampu.

Windy: Sistem belajar dari guru kurang maksimal.

Farida: Dampaknya anak lebih bisa fokus belajar di sekolah.

Intania: Kemiskinan di Indonesia akan teratasi.

Mardiana: Anak bisa belajar dengan tenang tanpa memikirkan biaya spp.

Machmud: Orang tua merasa senang karena sedikit mengurangi beban hidup.

Mulyani: Siswa dan orang tua senang.

Lili: Mutu pendidikan tidak berkualitas, menina bobok-kan siswa yang orang tuanya mampu.

Menurut anda, apakah sekolah mengalami kerugian dari adanya SPP gratis?

Zuhriyatus: Pasti, karena dana pemerintah pasti kurang mencukupi dan memikirkan kesejahteraan tenaga guru honorer juga.

Cia: Tidak.

Wahyu Fenty: Kalau menurut saya tidak.

Windy: Iya.

Farida: Tidak, tetapi harus mampu me-manage dengan baik RAPBSnya.

Intania: Kalau kerugian sepertinya tidak, karena dana spp gratis dari pemerintah.

Mardiana: Tidak.

Machmud: Tidak.

Mulyani: Tidak.

Lili: Bagi sekolah yang jumlah siswanya berskala besar tidak rugi, tetapi bagi sekolah yang siswanya sedikit perlu ada tambahan spp dari siswa.

Pada kenyataannya tidak semua masyarakat menganggap bahwa spp gratis merupakan tindakan yang benar. Memang benar jika dengan adanya sistem spp gratis dapat meringankan beban orang tua dan dapat membuat anak dari keluarga kurang mampu dapat merasakan nikmatnya menempuh ilmu di bangku sekolah. Namun jika spp gratis diadakan secara merata kepada semua siswa, hal ini memberikan dampak yang buruk bagi sekolah tersebut.

Jika bicara tentang ruang lingkup sekolah di sana tidak hanya berisikan cerita tentang murid dan guru, tetapi juga ada guru honorer, tukang kebun, tukang bersih-bersih ruangan, satpam, penjaga perpustakaan, dll. Mereka mendapatkan upah dari hasil pembayaran spp siswa. Lalu, jika spp di gratiskan kepada semua siswa, bagaimana sekolah akan memberi upah kepada mereka? Karena dana yang diberikan pemerintah juga tidak akan cukup untuk membayar seluruh kebutuhan sekolah. Belum lagi fasilitas yang diberikan sekolah kepada siswa, seperti wifi, laboratorium, uks, dokter jaga di uks, dll. Begitu banyak beban biaya yang ditanggung oleh sekolah.

Mungkin memang dengan adanya spp gratis membuat nikmatnya dunia pendidikan dapat dirasakan oleh semua kalangan. Tetapi dibalik semua itu terdapat hal-hal yang tidak dipandang oleh masyarakat. Maka dari itu, alangkah lebih baiknya jika spp gratis diberikan hanya kepada siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Sedangkan siswa yang berasal dari keluarga mampu tetap membayar spp. Hal ini dilakukan demi kebaikan kedua belah pihak. Saling tolong menolong supaya tidak ada yang merugi. Karena suatu permasalahan tidak bisa jika dilihat dari satu sudut pandang saja. (BN)

Sumber Gambar : jabar.tribunnews.com

Bunga Nadzifa
Author

Write A Comment