Inspiratif

Shofi Mahasiswi UMM, Peraih Kejuaraan Karateka Tingkat Internasional

Pinterest LinkedIn Tumblr

Cantik, muda, berbakat, dan mempesona sudah menjadi dambaan semua kaum hawa. Apalagi jika seorang perempuan itu mampu menjaga dirinya dengan menguasai ilmu bela diri atau karate, akan menjadi nilai plus tersendiri untuk seorang wanita. Perempuan yang memiliki nama lengkap Shofiyah Nur Yustina ini memang tampak anggun dari luar, tetapi siapa sangka ia memiliki skill karate yang tak dapat diragukan lagi. Atlet yang akrab disapa Shofi ini telah berkali-kali meraih juara karate. Dari tingkat internasional hingga kejuaraan tingkat nasional pun seringkali ia raih. Perempuan 19 tahun ini mulai terjun ke dunia karate saat masih kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Sedari kecil ia sangat menyukai olahraga bela diri. Lalu ia memutuskan untuk mengambil karate spesialis kata. Mudahnya, kata dapat diartikan sebagai menunjukkan gerakan-gerakan karate dari tingkat dasar hingga tingkat teratas.

“Prestasi pertama kali itu juara 3 kata perorangan sama juara 3 kumite di Mojokerto dan itu pertama kali ikut tanding,” jelas Shofi. Shofi kecilpun sangat bahagia menerima piala pertamanya itu. Dari situ, Shofi memutuskan  untuk terus menjadi seorang karateka hingga saat ini. Sekarang Shofi memegang sabuk hitam dengan tingkatan satu. Saat ini ia sedang melanjutkan pendidikan S1 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan Manajemen. Selama kuliah, ia sudah mengikuti enam kali pertandingan karate. Hebatnya, ia selalu memenangkan pertandingan tersebut dan mendapat berbagai macam penghargaan. Penghargaan yang ia terima berupa uang tunai yang ia gunakan untuk biaya pendidikannya. Dari pihak kampus sendiri juga memberikan reward sebagai bentuk untuk mengapresiasi prestasi dan bakatnya.

Seakan haus akan kemenangan, Shofi terus mengejar berbagai kejuaran nasional dan internasional lainnya. Baru-baru ini ia mengikuti kejuaraan SKIF di Italia. Ia bersama team berangkat dengan harapan dapat membawa nama baik Indonesia dan membawa pulang gelar juara. Tentunya banyak kesulitan yang harus dihadapi Shofi sebelum berangkat ke Italia, salah satunya yaitu mengenai biaya selama bertanding. Namun Shofi bersyukur, banyak pihak yang mensupport dan membantunya hingga akhirnya ia tetap bisa berangkat ke Italia.

Perempuan berbakat satu adalah penggila sambal petai. Hingga ketika pergi ke Italia, tak lupa ia membawa petai untuk terbang bersamanya. Karena, di Italia mayoritas makanannya berbahan dasar keju yang membuatnya merasa sedikit kurang nyaman apabila setiap hari harus makan keju. Selain itu, ia juga mempersiapkan diri dengan cara belajar dari kekalahan yang sebelumnya dan berlatih dengan keras selama 3 bulan sebelum keberangkatan.

Saat bertanding di Italia, Shofi berada di kelas perorangan dan bersaing dengan sekitar 50 atlet dari berbagai negara. Sayangnya di kelas perorangan ini ia harus ikhlas menerima kekalahannya. Ia mengatakan bahwa kekalahan tersebut tidak mutlak kesalahannya. Karena memang ada kesalahan dari official saat melakukan latihan. “Waktu latihan itu kita salah irama, jadi karena memang benar-benar paten nih kalau SKIF ya, jadi dia tuh tradisionalnya karate,” jelas Shofi.

Tidak selesai sampai disini, ia masih memiliki harapan sebagai juara di kelas beregu. Ia mencoba untuk membenarkan kesalahan-kesalahan yang sebelumnya. Ia tetap berlatih meskipun pada saat itu di Italia sedang mencapai suhu -1 derajat celsius. Namun, semua pengorbanannya berhasil membawa ia meraih Juara 1 Kata Kelas Beregu. Meskipun sedikit kecewa tidak mendapatkan juara di kelas perorangan, namun Shofi tetap bersyukur dan bangga atas kemenangan yang telah ia raih.

Setelah kemenangan yang ia raih, saat ini Shofi belum ada planning untuk bisa go internasional. Dikarenakan statusnya yang saat ini masih menjadi mahasiswi yang menjadi pertimbangannya. Karena, awalnya ia merasa bahwa hal tersebut dapat mengganggu perkuliahannya. Shofi merasa ketinggalan banyak perkuliahan di awal semester. Namun, saat ini ia sudah dapat membagi waktu antara kuliah dan latihan karate. Ia berkata bahwa kuliah lebih penting dan tetap menjadi prioritasnya. Karena dengan kuliah ia mampu menentukan karirnya di masa depan. Namun, ia juga tidak akan meninggalkan dunia karate yang telah membesarkan namanya. Ia senang menekuni dunia karate, karena ia mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman saat menjadi seorang atlet. Dari karate Shofi belajar bahwa manusia harus mampu berlatih dengan keras untuk bisa mencapai mimpinya. Shofi juga belajar akan rasa ikhlas menerima sebuah kekalahan. Meski banyak tuntutan bagi Shofi untuk selalu menang, tetapi hal ini dijadikan Shofi sebagai bentuk support dan rasa peduli dari orang yang berada disekitarnya. Namun baginya, setiap orang tidak harus selalu berada diatas, karena mendapat posisi di atas memang mudah, tetapi begitu sulit untuk mempertahankannya. Maka dari itu, kehidupan manusia di bumi memang lah harus seperti roda yang kadang di atas dan kadang di bawah supaya manusia dapat mengartikan rasa syukur dan nikmat dengan sendirinya. (NS)

Sumber Gambar : memontum.com

Nadhif Shadiq
Author

Write A Comment