Healthypedia

Memperkenalkan Organ Reproduksi kepada Anak Sejak Dini

Pinterest LinkedIn Tumblr

Menjadi orang tua memang memiliki peran dan tanggung jawab yang besar terhadap pertumbuhan anak. Memperkenalkan banyak hal kepada sang buah hati mnjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Apalagi banyak orang tua yang merasa tabu saat membicarakan organ reproduksi atau alat kelamin kepada anak mereka.

Saat anak menanyakan tentang alat kelaminnya, biasanya orang tua akan menggunakan istilah lain untuk menamakan alat kelamin anak. Misalnya, penis disebut “burung”, untuk menggantikan nama alat kelamin pada anak laki-laki. Sehingga  anak akan mengenal alat kelaminnya dengan sebutan burung.

“Iya, saya biasa memberi tahu anak saya tentang alat  kelaminnya dengan sebutan burung. Karena, saya merasa itu lebih sopan untuk anak kecil” Ujar Dyah (39), yang memiliki anak laki-laki berusia 6 tahun.

Memberikan nama lain atau nama istilah untuk mengenalkan alat kelamin kepada anak, mungkin dianggap oleh kebanyakan orang tua itu adalah hal yang baik agar lebih patut untuk diucapkan oleh anak. Namun, apakah hal tersebut merupakan suatu tindakan yang benar?

Fida Ayuning Maharani, mahasiswi Psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang, memberikan penjelasan terkait tindakan orang tua yang memperkenalkan alat kelamin kepada anak dengan menggunakan kata istilah.

“Alat kelamin itu tidak perlu dibeda-bedakan namanya. Bilang saja penis, bilang saja vagina. Jadi mereka tidak akan menganggap hal itu adalah sesuatu yang tabu,” jelas Fida via sambungan WhatsApp.


Fida mengatakan, ketika orangtua menyamarkan nama alat kelamin, anak akan merasa tabu untuk berbicara nama asli dari alat kelaminnya kepada orang tua. Akibatnya, anak akan bertanya kepada teman sebayanya atau justru mencari tahu di internet yang bisa saja memberikan informasi keliru. Memberi tahu nama alat kelamin yang benar kepada anak merupakan bagian dari pendidikan sex sejak dini.

Orang tua harus paham tentang tahap perkembangan anak, seperti anak laki-laki yang mungkin akan bertanya tentang keberadaan penis di tubuhnya, anak suka memegang penis, atau bisa juga anak bertanya mengapa anak perempuan tidak memiliki penis.

Fida menjelaskan, jika pendidikan sex harus diberikan secara bertahap sesuai dengan usia anak. Mulai dari memperkenalkan alat kelamin, mengajari anak membersihkan alat kelaminnya,, hingga mengajari anak untuk menjaga organ reproduksinya.

“Jelaskan kepada anak se-simple mungkin, supaya anak dapat mengerti. Misalnya, bisa menjelaskan seperti ini, ‘Ini alat kelamin kamu, yang boleh pegang hanya kamu sendiri atau nanti dokter kalau kamu sakit’,” ujar Fida.

Berikut adalah beberapa cara untuk memperkenalkan alat kelamin pada anak dan sekaligus cara untuk membiasakan anak agar memiliki kesadaran terhadap alat kelaminnya sejak dini:

Pertama, ajak anak mengenali organ tubuh miliknya.

Pendidikan seks dapat diawali dengan mengenali diri sendiri, termasuk alat kelaminnya. Berikan pengertian pada anak, bahwa dia harus merawat, membersihkan dan menjaga tubuhnya dengan baik. Sebab, tubuhnya merupakan karunia paling berharga dari Tuhan. Selain itu, jelaskan pula fungsi setiap bagian organ tubuhnya.

Kedua, tanamkan pentingnya menjaga organ tubuh.

Berikan pengertian kepada anak dengan bahasa yang sederhana, jika alat kelamin tidak boleh dipertontonkan ataupun disentuh oleh orang lain, selain orang tua saat memandikan anak atau saat membantu anak untuk membersihkan dan dokter saat ia sakit. Beritahukan pula bahwa hanya mereka yang bisa menjaga tubuh mereka sendiri agar selalu sehat, bersih dan terjaga. Hal ini akan menanamkan pemikiran pada anak untuk tidak sembarangan percaya pada orang selain keluarganya sendiri.

Ketiga, bangun kebiasaan positif

Mengajari anak kebiasaan-kebiasaan yang sifatnya positif, seperti tidak berganti baju di tempat umum atau tempat terbuka dan tidak pipis di sembarang tempat. Jika anda melihat anak anda memainkan alat kelaminnya, anda tidak perlu seketika itu pula menyuruhnya untuk berhenti melakukan hal tersebut. Faktanya, memainkan alat kelamin adalah fase normal dalam proses perkembangan diri anak, sehingga anda tidak pelu terlalu panik. Sebaliknya, sebagai orang tua harus menyikapi hal ini dengan tenang dan bijak.  Coba alihkan perhatiannya setiap kali dia memainkan organ vitalnya. Lama kelamaan, anak akan lupa kebiasaan ini dengan sendirinya.

Keempat, biasakan anak berpakaian sesuai identitasnya

Banyak orang tua yang justru lalai dalam memperhatikan cara berpakaian dan berdandan anak. Tidak jarang terlihat beberapa orang tua membiarkan anak perempuannya berambut cepak layaknya cowok atau mendandani anak lelakinya dengan style rambut panjang sebahu. Jika hal ini dibiarkan berlangsung dalam waktu lama, anak bisa mengalami kebingungan akan identitas seksualnya.

Kelima, jangan membuatnya malu dengan hal-hal yang tak sepantasnya.

Seringkali tingkah anak yang menggemaskan membuat kita ingin memamerkannya pada orang lain. Dengan cara sebatas bercerita pada kerabat hingga memotretnya lalumenggunggah foto tersebut ke media sosial Sebenarnya, mengunggah foto merupakan hal yang wajar. Hanya saja, perlu orang tua sadari bahwa tentu ada foto-foto anak yang tidak pantas untuk dijadikan sebagai konsumsi publik. Misalnya, foto saat anak mandi, foto saat anak telanjang, atau foto konyol saat anak tidur. Nah, dengan tidak memajang foto-foto tersebut di media sosial, otomatis anda sebagai orang tua juga membiasakannya untuk tidak memamerkan hal-hal yang tidak seharusnya dipamerkan.

Pendidikan sex sejak dini merupakan salah satu kunci untuk menghindarkan anak dari ancaman predator seksual. Anak akan menjadi lebih peka ketika ada orang yang melakukan pelecehan seksual kepadanya. Dengan begitu, anak juga tak ragu untuk menceritakan kepada orang tua ketika ada yang melakukan pelecehan seksual, terhadapnya. Maka dari itu, sudah sepantasnya sebagai orang tua untuk menanamkan kebenaran pada anak sejak dini dan diharapkan setelah membaca artikel ini para orangtua menjadi tidak tabu lagi dalam memperkenalkan organ reproduksi kepada anak sejak dini dengan melakukan cara yang benar pula. (NS)

Nadhif Shadiq
Author

Write A Comment