Lifepedia

Kuliah Daring di Masa Pandemi Covid-19

Pinterest LinkedIn Tumblr

Salah satu upaya untuk mengakali proses perkuliahan dimasa pandemi ialah dengan mengadakan kuliah daring. Dengan adanya himbauan pemerintah untuk menjaga jarak atau disebut dengan social distancing, kuliah tatap muka di Indonesia mulai ditiadakan sejak pertengahan Maret 2020, untuk memutus rantai penularan covid-19. Tak satupun yang menyangka, jika semester yang baru berjalan sekitar 1,5 bulan ini tiba-tiba saja harus dilakukan dengan sistem daring dalam jangka waktu yang tak dapat ditentukan. Case ini tentu menuai keluhan dari pihak-pihak yang bersangkutan, seperti dosen dan mahasiswa. Meski perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah berkembang pesat, bukan berarti seluruh dosen dan mahasiswa telah siap jika perkuliahan dilaksanakan full 100% dengan sistem daring. Wajar saja, karena siapa yang siap dengan situasi yang sangat mendadak ini?

Meski begitu, siap atau tidak bukanlah menjadi sebuah pilihan. Tak ada cara lain, kuliah daring tetap harus diberlakukan. Dalam artikelnya yang berjudul Integration of ICT in Teaching and Learning, Aloyce Luhamya, F. E. K. Bakkabulindi, dan Paul Birevu Muyinda, mengklaim bahwa pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi dan komputer (TIK) akan membantu dalam memperluas akses kependidikan melalui distribusi informasi yang lebih cepat dan ketersediaan kapan saja dan di mana saja hanya jika digunakan dengan tepat. Ya, kita bukanlah manusia jadul lagi. Dosen dan mahasiswa hendaknya telah mempunyai pengetahuan seputar bagaimana melangsungkan perkuliahan dengan sistem daring secara tepat. Aplikasi seperti Edmodo, Google Classroom, Zoom dan lain sebagainya menjadi penunjang proses perkuliahan dengan sistem daring.

“Dilihat dari kemudahan mengakses dan penggunaan kuota, edmodo merupakan aplikasi yang recommended. Sedangkan aplikasi  Zoom adalah aplikasi cadangan jika penjelasan di edmodo kurang dapat dipahami oleh mahasiswa”, terang Arif Hidayatul Khusna, Dosen di Universitas Muhammadiyah Malang. Dosen lulusan pendidikan matematika ini mengaku memilih aplikasi Edmodo dan Zoom berdasarkan kesepakatan bersama para mahasiswanya. Arif juga menyampaikan kesulitannya dalam mengajar dengan sistem daring. “Untuk bidang eksak seperti matematika, penyampaian materi kurang maksimal jika dilakukan secara daring”, ujar Arif. Pembelajaran untuk mata kuliah seperti matematika memang membutuhkan penjelasan yang tak jarang disertai praktek langsung oleh dosen untuk mencapai pemahaman yang maksimal bagi mahasiswa. Hal itu diakui juga oleh Ita Rosidah, Mahasiswi Akutansi di Institut Asia Malang.

“Beberapa materi yang disampaikan kurang jelas tanpa adanya penjelasan atau praktek secara langsung, sehingga mahasiswa harus berusaha memahami sendiri,” ujar Ita. Tak hanya dari segi penyampaian materi, Ita juga menyinggung perkara fasilitas. “Bertambahnya kebutuhan paket data, koneksi internet yang tidak stabil juga menjadi kendala bagi mahasiswa. Teman-teman juga ada yang laptopnya sudah tidak mumpuni sehingga lemot saat digunakan, bahkan ada juga yang harus mencari pinjaman laptop kesana kemari karena tidak memiliki laptop pribadi,” tambah Ita. Tak dapat dipungkiri, bahwa kuliah daring membutuhkan fasilitas penunjang yang cukup krusial, diantaranya ialah paket data dan laptop. Akan tetapi seiring dengan majunya teknologi, telepon genggam atau HP (handphone) yang tergolong dalam smartphone ini juga dapat menunjang proses perkuliahan dengan sistem daring. Word Document, Google Sheet, Google Classroom Edmodo, Zoom dan lain sebagainya sudah dapat diunduh melalui App Store dan Play Store pada smartphone.

Disisi lain, Arif mengakui beberapa kelebihan kuliah dengan sistem daring. “Waktu yang tidak terbatas, ditengah kondisi pandemi covid-19 seperti sekarang ini kuliah dengan sistem daring membantu pelaksanaan pembelajaran tetap berjalan. Secara tidak langsung, kuliah daring juga melatih komunikasi tertulis mahasiswa. Sedangkan dari segi pengajar, dapat meningkatkan kreatifitas dalam pembuatanan bahan ajar,” jelas Arif. Ternyata tidak sedikit pula sisi positif dari kuliah dengan sistem daring apabila dosen dan mahasiswa mampu memanfaatkannya dengan cermat.

Meski begitu, apabila kuliah daring masih harus diberlakukan dalam jangka panjang, tentu masih banyak hal-hal yang patut diperhatikan oleh pihak kampus untuk menunjang proses pembelajaran daring yang dilakukan para dosen dan mahasiswanya. “Mungkin sebagian pembayaran SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) yang telah dibayarkan bisa dialihkan menjadi subsidi paket data atau wifi gratis untuk mahasiswa. Atau bisa juga pendanaan SPP disesuaikan lagi dengan hak-hak yang didapat oleh mahasiswa, kan kita tidak lagi menggunakan fasilitas kampus,” jelas Ita yang menyampaikan harapannya.

Saat ini kuliah daring sudah semestinya jadi solusi bukan malah menjadi polemik. Seiring dengan berjalannya proses pembelajaran daring, evaluasi juga harus terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan sistem daring. Sebab tidak menutup kemungkinan kuliah daring akan diberlakukan kembali saat situasi mendesak di masa yang akan datang. (KKY)

Sumber Gambar : tabloidsinartani.com

Rizky Ayu
Author

Write A Comment