Inspiratif

Machmud Fauzi, Guru Berdedikasi dari Bumi Lambung Mangkurat

Pinterest LinkedIn Tumblr

Keinginan, angan, cita-cita dan harapan. Sekumpulan mimpi yang ingin diraih walau rumit dan berat. Setiap orang yang mempunyai mimpi, hidupnya akan terarah untuk menuju mimpi tersebut. Tidak peduli seberapa rumit dan berat rintangannya, akan tetap diterjang demi masa depan hidup yang lebih baik. Seperti Fauzi yang memiliki segudang cita-cita dan harapan agar kelak ia dapat menjadi orang yang bermanfaat dan dapat membantu orang disekitarnya.

Machmud Fauzi yang akrab dipanggil Fauzi, lahir di Kota Pahlawan yaitu Surabaya, 2 Mei 1964. Laki-laki yang berkulit sawo matang, berambut hitam dan berpostur tubuh gagah ini memiliki kegemaran mendaki gunung. Di usianya yang genap 56 tahun ini, Fauzi sudah mencapai beberapa puncak gunung di Indonesia, yaitu Puncak Anjani di Gunung Rinjani, Puncak Mahameru di Gunung Semeru, Puncak Rantemario di Gunung Latimojong dan Puncak Indrapura di Gunung Kerinci. Memang usia Fauzi sudah lebih dari setengah abad, tetapi Fauzi masih memiliki raga yang sehat dan kuat. Hal ini dikarenakan Fauzi selalu menjaga pola makannya dan memiliki gaya hidup yang sehat, seperti rajin berolahraga, tidak minum alkohol dan tidak merokok.

Sejak kecil, Fauzi memiliki cita-cita sebagai seorang marinir. Cita-citanya yang begitu bulat dan penuh tekad ini mendorong Fauzi jadi gemar berolahraga dan belajar dengan giat. Hari-harinya dihabiskan dengan belajar dan berolahraga. Olahraga yang ia gemari adalah bersepeda, jogging, sepak bola, tenis lapangan dan bulu tangkis. Hal ini dilakukan Fauzi sebagai bentuk latihan fisik dan persiapan untuk daftar sebagai calon marinir.

Tepat setelah Fauzi lulus SMA di SMAN 11 Surabaya pada 1984, ia berencana untuk masuk ke kesatuan marinir TNI Angkatan Laut. Namun apalah daya, cita-citanya yang telah ia mimpikan sejak kecil ternyata tidak mendapatkan support dan restu dari orang tuanya. Tentu hal ini membuat Fauzi menjadi bimbamg dan merasa putus asa. Tetapi, Fauzi tidak ingin menentang kehendak orang tuanya, karena Fauzi yakin apapun yang di ridhoi oleh orang tuanya adalah ridho dari Allah SWT. Dengan berat hati Fauzi terpaksa mengubur dalam-dalam cita-citanya sebagai seorang marinir.

“Jujur saja memang saya sedikit sakit hati, karena saya harus merelakan cita-cita saya yang sedari kecil sangat saya dambakan. Tetapi, hal itu tidak menjadikan saya putus asa akan masa depan saya. Saya merasa bahwa masa depan yang cemerlang itu ada ditangan orang-orang yang mau bekerja keras. Meski saya terlahir dari keluarga yang memiliki latar belakang ekonomi pas-pasan, saya tetap ingin menjadi orang yang sukses. Akhirnya, saya memutuskan untuk melanjutkan study saya ke jenjang perguruan tinggi,” ujar Fauzi.

Cita-cita yang terhalang oleh restu kedua orang tuanya, membuat Fauzi banting setir untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi. Fauzi mengikuti tes di Universitas Terbuka, Jurusan Administrasi Negara. Kemudian di tahun yang sama yaitu 1984, Fauzi juga mengikuti tes di Universitas Cendrawasih Jayapura, Jurusan Antropologi Budaya yang saat itu tesnya dilakukan di Surabaya. Dan yang terakhir, Fauzi juga mendaftar kuliah D-2 Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Surabaya.

Tak disangka dari ketiga universitas yang ia daftar, ternyata Fauzi lulus semua. Fauzi merasa bangga dan senang akan potensi yang ia miliki. Kendati demikian, Fauzi juga merasa bimbang harus mengambil universitas yang mana. Hari demi hari berlalu, Fauzi memutuskan untuk memilih D-2 SGPLB Surabaya.

“Saya memutuskan ambil di SGPLB. Disamping biaya kuliahnya yang relatif murah, waktu belajarnya juga hanya sebentar. Sehingga saya tak perlu lama-lama sekolah, kemudian saya bisa bekerja sebagai PNS,” jelas Fauzi.

Setelah lulus dari SGPLB, setahun kemudian tepatnya pada Agustus 1988, Fauzi mengikuti tes PNS untuk Guru SDLB di Kalimantan Selatan. Dalam tes ini Fauzi dinyatakan lulus. Fauzi yang memiliki tekad kuat dan berusaha keras untuk sukses, merasa tidak keberatan jika ia harus merantau ke Kalimantan Selatan. Akhirnya, pada Januari 1989 Fauzi pergi ke Bumi Lambung Mangkurat, julukan dari Provinsi Kalimantan Selatan, tepatnya di Kota Banjarbaru. Dan disini lah perjalanan hidup yang sebenarnya dimulai.

Pada 1990, Fauzi bekerja sebagai Guru PNS di SDLB Negeri Keraton Martapura. Kemudian, pada 2002 ia mutasi ke SMALB Keraton Martapura. Tujuh belas tahun mengabdi disana, Fauzi mutasi lagi untuk kedua kalinya ke SLB-C Negeri Pembina Provinsi Kalimantan Selatan hingga saat ini. Tak hanya menjadi seorang guru, Fauzi juga menjadi seorang Dosen di Universitas Lambung Mangkurat Prodi Pendidikan Luar Biasa sejak 2009 hingga sekarang.

Perjalanan hidup Fauzi selama menjadi Guru dan Dosen memang memiliki banyak cerita. Salah satu cerita hidup yang Fauzi kenang adalah saat ada salah satu orangtua murid mendatanginya untuk meminta tolong memberikan pelajaran tambahan kepada putranya yang menderita tuna wicara sejak lahir.

“Jadi saat itu ada salah seorang orang tua murid datang ke saya. Beliau memohon kepada saya supaya saya mau jadi guru private untuk anaknya yang seorang tuna wicara sejak lahir. Orangtua-nya ingin sekali anaknya bisa berbicara, meski sepatah dua kata. Sebenarnya saya tidak ada waktu luang untuk menjadi guru private dia, tetapi karena saya merasa iba dan saya ingin membantu, maka saya meng-iyakan permintaan tersebut,” cerita Fauzi.

“Awalnya saya ada rasa ketakutan untuk gagal, karena orang tua dari anak ini sangat menaruh harapan besar kepada saya. Memang tidak mudah untuk mengajari anak tuna wicara supaya ia bisa berbicara dengan lancar. Dengan penuh rasa sabar dan optimis, dibantu dengan sikap sang anak yang bersemangat, akhirnya pembelajaran private ini membuahkan hasil. Ia yang tadinya sejak lahir adalah seorang tuna wicara, kini ia bisa berbicara meski tidak begitu jelas dan lantang. Orangtua dari anak itu sangat bangga dan bahagia akan perkembangan anaknya,” imbuhnya.

Kejadian haru ini membuat Fauzi senang, karena dengan ilmu yang ia miliki ia dapat bermanfaat bagi orang disekitarnya. Orangtua dari anak tersebut tak segan berhenti mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada Fauzi. Bahkan Fauzi diberikan berbagai macam “hadiah” sebagai ucapan terima kasih, tetapi Fauzi menolak karena ia merasa bahwa ini sudah menjadi tugasnya untuk membantu dan berbagi ilmu kepada yang membutuhkan. Fauzi memang dikenal sebagai orang yang dermawan, sehingga ia tidak berpikir bahwa materi adalah segala-galanya.

Menjadi seorang Guru SLB memang tidak lah mudah. Selain dituntut harus kreatif dan inovatif, Fauzi juga dituntut harus memiliki sifat sabar yang luar biasa. Selain itu, Fauzi juga dituntut harus mengerti bagaimana keadaan psikologi dan mental yang dimiliki anak kebutuhan khusus. Meski begitu, Fauzi merasa enjoy menjalani profesinya. Rasa sabar yang ia berikan kepada muridnya sangat membuatnya begitu bahagia saat mengetahui jika ada salah seorang muridnya yang sukses.

“Saat itu ada muridku yang bernama Fredy, ia pernah mendatangiku ke sekolah dengan membawa mobil Hammer miliknya yang baru ia beli seharga 1 Miliar dari hasil kerjanya di perusahaan batu bara. Kemudian, ada juga muridku yang bernama Dian, ia menjadi chef magang di Jepang saat ia belajar di Loka Bina Karya Jakarta. Dan ada juga muridku Sidik Sumarno, ia adalah seorang anak tuna grahita, tetapi ia mampu menjadi bagian dari team basket spesial olimpic Indonesia yang bertanding di Turki dan meraih juara 2 dunia,” jelas Fauzi.

Hal-hal seperti itu lah yang membuat Fauzi selalu semangat untuk mengajar muridnya, meski terkadang ia merasa lelah. Karena ia merasa bahwa kedudukannya sebagai seorang Guru adalah harapan bagi murid-muridnya yang ingin sukses. Melihat murid-muridnya yang tak pernah lelah untuk belajar dengan kondisi yang terbatas, membuat Fauzi semakin termotivasi untuk memberikan yang terbaik bagi mereka.

Tak hanya mampu menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain, semasa menjadi guru, Fauzi juga pernah memperoleh beragam prestasi. Prestasi yang pernah ia raih adalah Juara 3 Guru Berdedikasi Tingkat Prov. Kalimantan Selatan (2005), Juara 2 Penulisan Karya Ilmiah jenjang Guru SMA Tingkat Prov. Kalimantan Selatan (2006), Juara 1 Guru Berdedikasi Tingkat Nasional (2008), Finalis Lomba Kreativitas Guru jenjang SMALB Tingkat Nasional (2015) dan Finalis Lomba Kreativitas Pembelajaran jenjang SMALB Tingkat Nasional (2018).

Fauzi percaya, jika kita selalu bekerja keras untuk mencapai mimpi kita, maka mimpi itu bukan lah hanya menjadi sekedar angan-angan belaka tetapi menjadi sebuah kenyataan hidup yang indah. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, karena dengan belajar membuat kita memperoleh banyak ilmu dan ilmu tersebut akan berguna untuk orang disekitar kita jika kita menggunakan ilmu tersebut dengan baik.

“Jangan lah kamu menentang kehendak orangtua mu, jika kamu tidak ingin hidupmu sengsara,” kata Fauzi. Karena, menurut Fauzi seseorang dapat meraih sukses dan prestasi dalam hidupnya tidak hanya sekedar dari kerja keras yang ia lakukan, tetapi juga tidak lepas dari peran doa restu kedua orangtua. (BN)

Bunga Nadzifa
Author

Write A Comment