Uniopini

Hilangnya “Momok” yang Menghantui Pelajar Indonesia

Pinterest LinkedIn Tumblr

Para pelajar di Indonesia memiliki momok yang selalu menghantui dirinya. Tak hanya di malam hari saja, momok tersebut adalah momok spesial yang mampu menghantui sepanjang hari. Momok tersebut suka mengganggu para pelajar yang berada di kelas akhir sekolah, seperti kelas 6 SD, 3 SMP dan 3 SMA. Dari sini mungkin kalian sudah paham siapa nama momok itu. Ya, tak lain dan tak bukan adalah ujian nasional.

Ujian nasional atau yang lebih mudah disebut UN adalah bentuk ujian akhir yang diadakan secara serentak di Indonesia dengan tujuan sebagai penentu kelulusan para siswa. Ujian akhir nasional pada  tingkat sekolah dasar berlangsung selama tiga hari, tingkat SMP berlangsung selama empat hari dan tingkat SMA berlangsung selama empat hari pula.

Dahulu, sistem UN dilakukan seperti ujian pada umumnya yang menggunakan lembar kertas ujian. Namun, sejak 2014 ujian akhir nasional berganti sistem dengan berbasis komputer, sehingga namanya berubah menjadi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Pada 2014, UNBK dilakukan secara terbatas di SMP Indonesia Singapura dan SMP Indonesia Kuala Lumpur. Tepat pada pelaksanaan UNBK kedua, yaitu pada 2016 barulah diadakan UNBK hampir di seluruh sekolah di Indonesia.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Sopan Adrianto, bahwa UNBK jauh lebih efektif dibandingkan dengan UN yang menggunakan lembar kertas ujian. Beberapa keunggulan dari UNBK adalah meminimalisir tertukarnya soal, kemungkinan untuk keterlambatan soal akan kecil dan hasil soal cetak lebih jelas. Selain itu juga meminimalisir adanya kecurangan dalam pengerjaan soal dan pengumuman hasil UN jauh lebih cepat.

Selain adanya kelebihan dari UNBK, terdapat pula kelemahan dari UNBK tersebut. Hal ini disampaikan oleh Muhadjir Effendy, jika UNBK memiliki beberapa kelemahan, seperti kelemahan pada konten, pembelajaran, metodologi, tenaga pendidik yang belum sepenuhnya menguasai sistem tersebut, siswa yang kurang siap untuk melaksanakan UNBK dan kurangnya sarana prasarana di setiap sekolah.

Adanya kelebihan dan kekurangan dari UNBK ini membuat pemerintah terus berusaha memberikan yang terbaik untuk pendidikan di Indonesia. UNBK tetap berjalan hingga 2019 dan pada 2020 UNBK ditiadakan dengan alasan adanya pandemi covid-19 yang merebak di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Selain UNBK ditiadakan, sekolah juga diliburkan sejak maret 2020. Hingga saat ini masih belum ditentukan dengan pasti kapan waktu yang tepat untuk memulai aktivitas pendidikan kembali.

Memang hal ini cukup mengejutkan bagi beberapa pihak, karena pengumuman ini terkesan mendadak. Meski begitu, ditiadakannya UNBK pada 2020 ini merupakan keputusan terbaik mengingat pandemi covid-19 yang terus menerus meluas. Bahkan pasien yang terus bertambah dari hari ke hari. Bagaimanapun juga kesehatan tetap nomor satu, karena sehat itu mahal. Bukan berarti pendidikan tidak penting, tetapi keadaanlah yang memaksa untuk menjadi seperti ini. Hal ini dilakukan juga sebagai bentuk pencegahan penularan covid-19.

Namun, perlu diketahui jauh sebelum adanya pandemi covid-19 yang melanda tanah air, Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, ia telah mewacanakan bahwa ujian nasional akan dihapuskan mulai 2021. Berita ini telah terdengar oleh masyarakat Indonesia sejak 2019 di mana pada tahun itu lah untuk pertama kalinya Nadiem Makarim diangkat menjadi seorang Menteri. Hal ini dilakukan, karena ujian nasional dianggap tidak adil sebagai penentu kelulusan siswa.

Tentu hal ini menuai berbagai pro dan kontra. Banyak pihak yang setuju jika UN dihapuskan dan ada juga yang tidak setuju. Dihapuskannya UN memiliki berbagai macam dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif. Beberapa dampak positif yang mungkin terjadi jika UN dihapuskan adalah:

Pertama, hilangnya beban siswa yang selama ini menjadi momok sekolah. Mendekati ujian nasional, siswa akan merasa sangat terbebani dengan menambahnya jam belajar dan banyaknya latihan-latihan soal yang dikerjakan guna mempersiapkan diri bertemu dengan momok sekolah. Sehingga dengan dihapuskannya ujian nasional, siswa akan merasa lebih rileks dan santai dalam menjalani hari-harinya sebagai pelajar kelas akhir.

Kedua, mengurangi rasa setres siswa. Ujian nasional sering dianggap sebagai beban berat bagi siswa. Menambah jam belajar, mengerjakan ribuan latihan soal dan berkurangnya waktu untuk santai membuat siswa menjadi rentan setres. Maka dengan dihapuskannya ujian nasional siswa akan tetap memiliki banyak waktu untuk refreshing dan tidak terpatok dengan ujian nasional.

Ketiga, adanya keadilan untuk penentuan kelulusan. Standar kelulusan siswa tidak hanya ditentukak selama ujian nasional saja, karena belum tentu mental dan kesehatan yang dimiliki siswa selama waktu ujian nasional dalam keadaan baik. Jika pada saat itu siswa dalam keadaan tidak baik, maka bisa mengganggu dalam pengerjaan soal ujian.

Keempat, berkurangnya beban orang tua untuk memberikan fasilitas tambahan belajar di lembaga bimbingan belajar. Bukan menjadi rahasia umum lagi jika harga yang ditawarkan oleh sebuah lembaga bimbingan belajar (bimbel) untuk siswa yang akan menghadapi ujian nasional dibanderol dengan harga yang cukup fantastis dan bahkan lebih mahal dari biaya sekolahnya sendiri. Harga yang ditawarkan dimulai dari jutaan rupiah, belasan juta rupiah hingga puluhan juta rupiah tergantung fasilitas yang akan didapatkan siswa. Dengan begitu jika UN dihapuskan maka orang tua tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk bimbel.

Namun, jika dilihat dari sudut pandang lain dengan dihapuskannya  ujian nasional ini memberikan dampak negatif, yaitu:

Pertama, siswa akan kehilangan semangat belajar. Rasa cemas yang dihadapi siswa saat menjelang ujian nasional membuat siswa termotivasi dan lebih semangat untuk belajar. Belum lagi siswa yang memiliki ambisi untuk mendapatkan nilai terbaik, ia akan belajar lebih giat daripada sebelumnya. Sehingga jika ujian nasional dihapuskan, maka tak dapat dipungkiri rasa semangat belajar dan ambisi untuk lulus dengan nilai yang baik akan berkurang atau hilang.

Kedua, lebih menyepelekan pelajaran sekolah. Biasanya siswa fokus dengan pelajaran yang diberikan di sekolah dengan alasan agar siap untuk menghadapi ujian nasional. Jadi, jika ujian nasional dihapuskan maka siswa akan lebih menyepelekan pelajaran sekolah.

Ketiga, lembaga bimbingan belajar akan mengalami penurunan pemasukan. Kebanyakan siswa akan mengikuti bimbel saat akan menjelang ujian nasional, karena siswa merasa membutuhkan tambahan belajar untuk mempersiapkan diri. Dengan dihapuskannya ujian nasional, tidak menutup kemungkinan jika siswa tidak akan mengikuti bimbel karena biaya yang mahal, sehingga lembaga bimbingan belajar akan mengalami penurunan pemasukan.

Sebenarnya dengan adanya ujian nasional tidak memberikan dampak yang buruk meski dianggap tidak adil. Tidak ada salahnya melakukan ujian nasional untuk menentukan kelulusan, karena bagaimanapun juga maksud diadakannya ujian adalah sebagai bentuk menguji hasil belajar siswa selama belajar di sekolah. Apakah selama sekolah siswa benar-benar memperhatikan pelajaran yang diberikan guru atau kah diabaikan. Karena, hasil ujian akan membuktikan mana siswa yang sungguh niat belajar dan mana yang tidak. Jadi, tidak ada istilah rugi dalam pelaksanaan ujian nasional.

Mungkin yang diubah cukup dengan sistemnya. Seperti antara sekolah yang ada di daerah kota dan sekolah di daerah desa atau pelosok diberikan standar nilai dan soal yang berbeda. Tidak bisa disamaratakan, karena fasilitas dan materi yang di dapat antara sekolah kota dan sekolah pelosok itu berbeda. Hal ini terjadi karena pendidikan di Indonesia belum sama rata pula. Sehingga, tidak adil rasanya jika standar soal dan nilai yang diberikan sama.

Sikap siswa yang cenderung berlebihan dalam menyambut ujian nasional juga perlu diperbaiki. Tidak perlu menganggap ujian nasional adalah momok yang mengerikan. Karena, jika siswa belajar dengan tekun, selalu fokus saat jam pelajaran, memperhatikan guru ketika menyampaikan materi, teratur dalam mengerjakan latihan soal dan percaya akan kemampuan diri sendiri, maka tidak akan muncul rasa setres dan cemas. Ditambah dengan sikap ikhtiar dan tawakal, pasti siswa akan tetap merasa rileks.

Maka dari itu, dengan adanya ujian nasional ataupun dengan dihapuskannya ujian nasional siswa atau pelajar harus tetap memiliki semangat tinggi untuk belajar. Apapun keputusan yang diberlakukan oleh pemerintah semoga hal itu merupakan keputusan terbaik untuk pendidikan yang ada di Indonesia. Tidak ada alasan untuk tidak belajar, karena meluangkan waktu untuk belajar tidak akan merugi justru akan membuat masa depan yang lebih baik. Semakin banyak ilmu, semakin baik pula cara untuk menjalani hidup. (BN)

Sumber Gambar : pikiran-rakyat.com

Bunga Nadzifa
Author

Write A Comment