Uniopini

Inovasi Pembayaran SPP Melalui Dompet Digital

Pinterest LinkedIn Tumblr

Media sosial tak hanya berguna sebagai penyebar luas informasi saja, tetapi juga sebagai wadah bertukar canda tawa. Seperti, sejak Nadiem Anwar Makarim resmi ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia oleh presiden Joko Widodo pada 2019, banyak celoteh candaan netizen Indonesia yang memenuhi beranda media sosial mengenai“Bayar SPP pakai GoPay”. Candaan tersebut muncul bukan tanpa alasan, tetapi karena mengingat Nadiem Makarim adalah seorang pendiri perusahaan Gojek Indonesia.

Namun, yang lebih menghebohkan lagi kini celotehan netizen tersebut bukan hanya sekedar candaan semata. Dikutip dari cnnindonesia.com, pada 17 Februari diumumkan bahwa GoPay dapat digunakan untuk membayar SPP dan biaya pendidikan lain, seperti buku, seragam dan kegiatan ekstrakurikuler. Memang sudah suatu rencana yang direncanakan bertahun-tahun lalu oleh Gojek yang disampaikan oleh Nadiem Makarim.

Sebagai netizen yang ikut serta berkomentar tentang adanya meme kocak perihal bayar SPP menggunakan GoPay, pasti akan merasa terkejut. Seakan de javu kejadian seperti ini. Namun, tidak ada yang salah dengan kejadian seperti ini. Karena, dapat pemanfaatan kecanggihan teknologi dengan baik dan bijak. Serta dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi pada dunia pendidikan di Indonesia juga merupakan suatu bentuk perubahan untuk memajukan fasilitas dan layanan pada pendidikan tanah air.

Pada data hasil penelitian yang tertera oleh perusahaan riset global asal Prancis, Ipsos menyebutkan bahwa GoPay mempunyai pengguna organik tertinggi dibanding tiga pesaing utamanya di Indonesia yakni Ovo, Dana dan LinkAja. Dari riset tersebut, dapat dikatakan bahwa penggunaan dompet digital menganggap bahwa GoPay memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan generasi millenial. Penggunaan yang mudah dan dapat diakses hanya melalui smartphone, membuat GoPay memang pantas dipilih sebagai prasarana pembayaran SPP. Apalagi saat ini mayoritas orang tua memiliki smartphone, sehingga hal ini dapat mempermudah mereka dalam pembayaran SPP hanya dalam genggaman dan tidak perlu repot-repot ke sekolah.

Dengan memanfaatkan GoPay sebagai media pembayaran SPP merupakan bentuk upaya dalam mendukung inovasi baru yang dibuat oleh kemendikbud dalam memajukan sistem pendidikan di Indonesia. Persepsi kemudahan yaitu sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan bebas dari usaha (Fred D. Davis, 1989; Jogiyanto, 2007). Jadi, dapat disimpulkan bahwa persepsi kemudahan merupakan tingkat kepercayaan pengguna dalam menggunakan teknologi tidak perlu mengeluarkan usaha yang keras.

Di sisi lain bukan Indonesia namanya jika tidak ada polemik dalam sebuah ide atau gagasan baru. Hal ini dibuktikan dengan inovasi yang diluncurkan oleh Nadiem Makarim menuai banyak kritikan dari beberapa pakar dan politisi. Bagaimana Indonesia bisa maju jika rakyat selalu mengkritik negatif inovasi yang dibuat oleh pemerintah untuk memajukan sistem pendidikan Indonesia. Hanya masyarakat pintar saja yang bisa menilai mana kebijakan pemerintah yang benar dilakukan untuk membangun Indonesia lebih maju dan mana yang bermaksud untuk mengambil keuntungan.

Dikutip dari laman threechannel.co, “Kalau disebut penyalahgunaan kekuasaan pasti debat-able. Tapi secara etika ini tak patut. Jangan-jangan Nadiem lebih memikirkan Gojek daripada anak sekolah negeri ini,” ujar Ferdinand Hutahaean dalam akun Twitternya, Selasa (18/2/2020).

Cuitan semacam ini apakah bermaksud hanya sekedar kritikan untuk membangun? Atau malah memprovokasi masyarakat untuk menolak kebijakan pemerintah? Nobody knows. Mengapa sesama politikus tidak saling mendukung dalam urusan memajukan pendidikan Indonesia yang bisa dikatakan masih bobrok, justru malah beradu mulut dan saling menjatuhkan.

Namun, jika dilihat dari sudut pandang lain, kebijakan tersebut memang mempunyai kelemahan. Seperti, menurut sejumlah kepala sekolah di Kota Padang, pembayaran dengan metode digital akan berlaku efektif hanya bagi sekolah swasta yang berada di pusat Ibu Kota dengan tingkat ekonomi menengah ke atas.

Ya, hal ini memang menjadi kelemahan dalam pembayaran SPP melalui Gopay. Untuk sebagian sekolah swasta yang berada di pinggiram kota atau sekolah yang berada di daerah dengan kendala kesusahan mendapatkan akses internet akan merasa sulit untuk menerapkan pembayaran dengan GoPay. Seperti di Papua yang akses internetnya di blokir. Mungkin mereka akan menentang keras mengenai adanya kebijakan seperti ini.

Kelemahan lain juga dapat berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang ekonomi menegah kebawah. Bisa jadi kebijakan tersebut justru mempersulit mereka. Dengan alasan tidak memiliki smartphone atau bisa juga karena faktor gagap teknologi.

Sehingga dapat disimpulkan jika inovasi baru dalam pembayaran SPP melalui dompet digital tidak dapat di pukul rata kepada seluruh masyarakat dan sekolah di tanah air. Mengingat kualitas pendidikan dan ekonomi keluarga di Indonesia juga belum sama rata pula. Meski begitu, kita patut mengapresiasi kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Karena, bagaimanapun juga pemerintah telah memberikan yang terbaik dalam inovasi yang hadir untuk mempermudah masyarakat. Akan lebih baik lagi jika pemerintah lebih memperhatikan sekolah-sekolah di daerah terpencil dan pelosok, supaya dapat merasakan inovasi baru tersebut. (ARA)

Sumber Gambar : sabigaju.com

Mutiara Happy
Author

Write A Comment