Uniopini

Sistem Pembelajaran Daring ditengah Pandemi dalam Keadaan Terdesak

Pinterest LinkedIn Tumblr

Corona virus, makhluk kecil tak kasat mata yang mampu membuat manusia menjadi merasa ketakutan dan cemas berlebih. Diberi nama korona, karena struktur tubuhnya terlihat seperti mahkota dan merupakan keluarga besar virus yang mengakibatkan infeksi pada saluran pernapasan baik pada hewan maupun manusia. Walaupun virus ini lebih banyak ditemukan pada hewan, tetapi virus ini bisa menyerang dari hewan ke manusia lalu dari manusia ke manusia.

Pada 11 Februari 2020, WHO (World Health Organization) mengumumkan bahwa penyakit dari virus korona dinamakan COVID-19 yang merupakan singkatan dari Corona Virus Disease yang muncul pada 2019. Virus ini adalah tipe virus baru yang awalnya ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei, China. WHO menetapkan darurat dunia atas penyebaran virus korona yang begitu luas dan seluruh pihak harus ikut berpartisipasi meningkatkan pengawasannya terhadap kesehatan masyarakat.

Pemerintah Indonesia sendiri mulai cepat dan tanggap menganjurkan warganya untuk menerapkan social distancing, work from home dan mengisolasi diri di rumah guna mengantisipasi penyebaran virus yang semakin meluas. Karena semakin merebaknya virus korona yang berdampak luas dalam sektor penting di Indonesia terutama pada sektor pendidikan, maka dengan terpaksa pemerintah meliburkan segala aktivitas dan kegiatan sekolah.

Sejalan dengan arahan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyampaikan adanya intruksi belajar di rumah, hingga 1 Juni 2020. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menghentikan penyebaran virus korona dan menekan kenaikan angka pasien yang terpapar COVID-19 di Indonesia.

Meski begitu kegiatan pendidikan tetap harus dilaksanakan walaupun dengan keadaan yang tidak memungkinkan seperti sekarang. Salah satu langkah yang tepat dalam situasi seperti ini adalah dengan memanfaatkan teknologi jaringan dan teknologi informasi bagi pengembangan sistem pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi, yaitu dengan model pembelajaran daring (dalam jaringan). Dengan menggunakan perantara aplikasi untuk belajar online, diantaranya seperti Zoom, Google Classroom, Google Classmeet, Edmodo, Canva Student dan masih banyak lagi.

Hal yang sering saya tanyakan adalah, apakah model pembelajaran daring ini cocok digunakan oleh seluruh para peserta didik di Indonesia? Walaupun awalnya sempat ada pro dan kontra mengenai pembelajaran daring, tetapi pembelajaran daring tetap dilakukan serentak di Indonesia dan tanpa adanya persiapan yang benar-benar matang oleh para pendidik dan juga peserta didik.

Dengan model pembelajaran daring saat ini, ada beberapa siswa yang lebih menyukai pembelajaran daring daripada harus datang ke sekolah. Seperti Raihan yang merupakan salah satu siswa SMAN 1 Malang, ia mengatakan jika belajar online lebih baik, karena lebih santai dan waktu yang lebih fleksibel.

Selain itu manfaat lain dari  model pembelajaran daring ini adalah orang tua lebih bisa mengawasi anak-anaknya saat belajar, membuat siswa atau guru menjadi melek teknologi, mempercepat era 5.0 dan meningkatkan kemampuan siswa dan guru dibidang ilmu teknologi. Siswa juga menjadi lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas mereka, serta ia juga dapat mengkondisikan diri senyaman mungkin untuk belajar tanpa adanya aturan yang formal.

Untuk sekolah yang sudah terbiasa menerapkan pembelajaran jarak jauh tanpa adanya tatap muka setiap hari, maka jelas mereka sudah terbiasa. Tetapi, untuk saat ini masih banyak sekolah di Indonesia yang jarang atau bahkan tidak pernah melakukan sistem pembelajaran dalam jaringan berbasis online, lalu bagaimana? Mau tidak mau sekolah harus dipaksa untuk melakukan pembelajaran online supaya siswa tetap bisa belajar meski dalam keadaan pandemi yang seperti ini.

Namun sejatinya akan ada banyak masalah atau kendala yang timbul dengan adanya sistem pembelajaran daring seperti ini, sistem yang mungkin asing bagi sebagian sekolah karena sebelumnya tidak pernah menggunakan sistem daring. Berikut beberapa kendala yang bisa terjadi selama diberlakukannya sistem pembelajaran daring.

Pertama, bagi sekolah yang berada di pelosok atau desa tentu saja signal merupakan masalah utama. Tak dapat dipungkiri jika keberadaan signal di daerah pelosok sering mengalami gangguan. Jaringan yang tidak stabil akan sangat mempengaruhi kegiatan belajar daring.

Kedua, paket data. Tentu saja untuk mengakses aplikasi atau web belajar daring selain dibutuhkan signal yang stabil juga dibutuhkan adanya paket data. Harga paket data dari setiap operator bermacam-macam. Ada yang terjangkau ada juga yang mahal. Hal ini membuat siswa menjadi mengeluarkan dana ekstra untuk membeli paket data. Apakah ada dana subsidi dari sekolah atau pemerintah kepada siswa untuk membeli paket data selama diberlakukannya sekolah online?

Ketiga, gadget dan smartphone. Tentu dalam sistem pembelajaran daring dibutuhkan gadget atau smartphone sebagai media perantaranya. Namun, tidak semua siswa memiliki laptop atau hp dan tidak semua siswa memiliki hp atau laptop dengan spesifikasi yang dapat digunakan untuk mengakses aplikasi pembelajaran daring.

Keempat atau yang terakhir, terjadi miskomunikasi. Apa yang dijelaskan guru tidak bisa dipahami dengan baik oleh siswa. Bisa terjadi karena signal yang kurang baik, perangkat yang mulai lemot, guru yang belum terbiasa mengajar secara daring, atau bahkan siswa yang belum siap dengan sistem daring ini.

Dari sini dapat diketahui jika masalah atau kendala yang ada bukan berada pada sistem pembelajaran daringnya, tetapi dari siswa, sekolah dan pemerintah. Karena belum ada persiapan yang matang dari siswa, guru dan pemerintah untuk beradaptasi dengan situasi seperti ini. Bagaimana bisa mempersiapkan semuanya secara matang jika pandeminya saja juga datang tanpa diundang. Mau tidak mau sekolah dan belajar harus tetap berjalan, maka dari itu segala macam kendala harus dihadapi demi Indonesia yang lebih baik.

Kesimpulannya, belajar secara daring memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah waktu yang efisien dan fleksibel, membiasakan diri dengan teknologi dan dapat mengasah bakat atau potensi yang dimiliki karena memiliki banyak waktu luang. Kekurangannya adalah karena persiapan yang kurang matang maka antara siswa dan guru mengalami beberapa kendala seperti diatas.

Dalam kondisi seperti ini dapat dipahami, jika belajar tidak harus selalu di sekolah. Belajar dan menuntut ilmu dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Manusia sebelum mengenal internet tetap bisa belajar melalui buku, maka tidak ada alasan bagi kalian yang tidak bisa mengakses internet untuk tidak belajar. Karena, sejatinya jika disitu ada kemauan dan tekad yang kuat pasti ada jalan. Semangat belajar untuk masa depan dan Indonesia yang lebih baik! (NS)

Sumber Gambar : news.detik.com

Nadhif Shadiq
Author

Write A Comment