Indepth

Skripsiku Sayang, Skripsiku Malang

Pinterest LinkedIn Tumblr

Menjadi mahasiswa tingkat akhir tentu saat ini pasti memiliki sebuah tanggung jawab yang cukup membebankan, tidak lain dan tidak bukan adalah skripsi. Skripsi, sebuah satu kata banyak arti yang memberikan berbagai dampak bagi mahasiswa akhir. Skripsi ibarat mimpi buruk yang ingin membuat setiap mahasiswa akhir terbangun dari mimpinya. Namun apa daya, skripsi bukanlah sebuah fatamorgana atau mimpi buruk belaka, tetapi sebuah kenyataan hidup yang harus dijalani dan dilakukan.

“Skripsi itu mempertanggung jawabkan apa yang dikerjakan, lalu ditulis secara ilmiah. Sama seperti marketing yang di dalamnya ada analisa, survey, lalu dirumuskan. Setelah dirumuskan dicari solusi dengan metode tertentu.” jelas Dharma Surya, S.Kom, M.T yang saat ini berprofesi sebagai Pakar dan Praktisi UX Designer.

Skripsi merupakan sebuah karya tulis ilmiah berupa paparan dari hasil penelitian para sarjana S1 yang membahas suatu permasalahan atau fenomena dalam bidang ilmu tertentu dengan menggunakan kaidah-kaidah atau pedoman yang berlaku. Skripsi juga dapat dikatakan sebagai bench-mark perjalanan seorang mahasiswa dalam memperoleh gelar sarjana strata satu (S1) yang juga merupakan titik ukur perjalanan akademis individu dalam menuntut ilmu.

Pada zaman dulu, tepatnya pada pertengahan abad di Eropa, seorang pekerja yang ingin menjadi anggota bagian dari sebuah asosiasi suatu pekerjaan harus membuktikan keahliannya dengan cara menghasilkan suatu karya yang disebut masterpiece. Karya tersebut berguna untuk menentukan seorang pekerja layak diterima atau tidak sebagai anggota asosiasi. Dan jika dinyatakan lulus, maka sang pembuat karya diberi gelar Master atau ahli bidang.

Kemudian, ketika perguruan tinggi mulai didirikan, pembuatan karya ilmiah tersebut di adopsi sebagai bentuk penentu apakah mahasiswa tersebut layak memperoleh gelar master atau doktor. Di Indonesia sendiri bentuk karya ilmiah tersebut diberi nama skripsi. Tujuan skripsi adalah agar seorang calon S1 dapat membuktikan bahwa dirinya mengetahui prinsip dasar karya ilmiah, memahami metodologi penelitian, serta dapat menerapkan teknios penulisan ilmiah secara benar. Sehingga, mahasiswa diharapkan mampu menguraikan secara sistematis dan logis dari sebuah permasalahan sesuai konsentrasi ilmunya.

Dalam proses pembuatan skripsi terdapat beberapa aturan yang berlaku, seperti persyaratan penyusunan skripsi dan prosedur pengajuan penyusunan skripsi. Beberapa persyaratan penyusunan skripsi adalah:

Pertama, terdaftar sebagai mahasiswa pada semester dimana mahasiswa yang bersangkutan akan menyusun tugas akhir.

Kedua, telah menempuh sekurang-kurangnya 110 sks (tidak ada nilai D) dan IPK minimal 2.00.

Ketiga, dinyatakan lulus mata kuliah Metode Penelitian, baik yang bersifat dasar/umum, maupun MK metodologi yang bersifat lebih khusus sesuai jurusan.

Keempat, tidak mempunyai tunggakan SPP, DPP, Heregistrasi dan jenis pembayaran lainnya.

Kelima, telah membayar biaya skripsi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Keenam atau yang terakhir, telah memprogram skripsi pada Kartu Rencana Studinya dan telah melakukan proses online.

Untuk yang dimaksud dengan prosedur pengajuan penyusunan skripsi adalah tahapan-tahapan yang harus dilakukan mahasiswa selama proses penelitian. Tahapan yang harus dilaksanakan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu pengajuan judul penelitian, seminar proposal penelitian dan sidang ujian skripsi.

Memang untuk mencapai hasil akhir dari skripsi harus menempuh berbagai macam aturan yang ada. Belum lagi ditambah dengan adanya drama-drama yang kerap kali muncul tanpa di duga. Seperti, dosen pembimbing yang sedang hamil besar lalu mendadak cuti untuk persiapan lahiran, pekerjaan di luar kampus yang menyibukkan atau putus cinta dengan kekasih yang membuat malas untuk melanjutkan skripsi. Drama hidup seperti itu lah yang bisa menjadi penghambat dari selesainya skripsi dari dateline yang mulanya telah diberlakukan oleh diri sendiri.

Di luar segala drama dan kerumitan skripsi, apa pendapat masyarakat mengenai skripsi? Apakah mereka beranggap bahwa skripsi memang penting? Atau justru tidak? Maka dari itu, Unipedia akan membeberkan jawaban dari sepuluh mahasiswa “senior” tentang skripsi yang sedang mereka jalani.

Sepuluh orang diantaranya adalah Hilal Pradana (24) Mahasiswa angkatan 2014 di Universitas Negeri Jakarta, Gali (22) Mahasiswa angkatan 2015 di Universitas Brawijaya, Luthfiyah Ayu (23) Mahasiswa angkatan 2014 di Universitas Muhammadiyah Malang, Astari (22) Mahasiswa angkatan 2015 di STIE YKPN, Clay Jonathan (23) Mahasiswa angkatan 2015 di Universitas Dian Nuswantoro, Caca (23) Mahasiswa angkatan 2015 di Universitas Airlangga, Syamsul Arifin (25) Mahasiswa angkatan 2013 di Universitas Dian Nuswantoro, Pandu (22) Mahasiswa angkatan 2015 di Universitas Brawijaya, Olla (23) Mahasiswa angkatan 2015 di Universitas Brawijaya dan Kevin Roy Azhar (23) Mahasiswa angkatan 2014 di Universitas Muhammadiyah Malang.

Apa arti skripsi bagi anda?

Hilal: Tugas akhir untuk mendapatkan gelar sarjana.

Gali: Hanya formalitas untuk kelulusan.

Luthfiyah: Penelitian mahasiswa untuk mencapai gelar sarjana.

Astari: Persyaratan agar bisa lulus.

Clay: Bagi saya, skripsi adalah sesuatu yang sulit dikerjakan kalau nggak niat. Tetapi kalau niat pasti cepet banget di selesaikan.

Caca: Persyaratan untuk lulus.

Syamsul: Agar bisa menganalisis sebuah masalah.

Pandu: Tugas akhir.

Olla: Pelatihan diri.

Kevin: Syarat kelulusan.

Menurut anda, apakah skripsi penting atau tidak? Berikan alasannya.

Hilal: Penting, karena untuk bisa mengetahui seberapa kompeten kita memahami jurusan yang kita pelajari.

Gali: Tidak, karena hanya mempersulit mahasiswa dan membuang-buang waktu. Lebih baik skripsi diganti praktik di lapangan saja.

Luthfiyah: Gak penting. Karena jarang sekali dipakai di dunia kerja.

Astari: Tidak, kelulusan tidak harus berdasarkan skripsi.

Clay: Penting banget, karena dari skripsi kita bisa tau tentang kemampuan kita dan ilmu apa saja yang kita dapat saat kuliah.

Caca: Penting, karena dapat memunculkan penelitian baru, mengasah skill penulisan dan sisanya gak penting cuma bikin pusing hidup.

Syamsul: Penting, karena acuan dalam kelulusan di perkuliahan di tentukan dengan skripsi.

Pandu: Penting, karena sebenarnya dengan mengerjakan skripsi banyak manfaat yang bisa diambil oleh mahasiswa.

Olla: Penting. Untuk mengasah dan meneliti suatu hal baru.

Kevin: Menurut saya pribadi, tidak.

Apakah dengan adanya beberapa peraturan dalam pengerjaan skripsi, dapat memberatkan mahasiswa atau tidak? Berikan alasannya.

Hilal: Tidak, karena dengan adanya skripsi kita bisa memahami seberapa pentingnya ketepatan dalam menempuh pendidikan.

Gali: Tidak memberatkan, yang memberatkan itu dosen yang susah di temuin dan banyak maunya.

Luthfiyah: Karena merasa tidak penting, jadi terasa berat.

Astari: Tidak, selama mau berusaha mematuhi peraturan.

Clay: Tidak sama sekali, kalau ada niat pasti tidak berat sama sekali.

Caca: Tidak, sih.

Syamsul: Ya memberatkan, bisa menghambat dalam mengerjakan skripsi, jika peraturan yang diberikan sangat sulit.

Pandu: Tidak, karena peraturan juga diberikan agar penulisan skripsi lebih rapi, teratur dan mudah dimengerti oleh pembacanya.

Olla: Tidak. Melatih soft skill, seperti membuat file dan data.

Kevin: Tidak. Karena masih dalam batas wajar dan sesuai saja.

Jika skripsi ditiadakan, apa pengganti yang cocok untuk menentukan kelulusan mahasiswa?

Hilal: Membuat jurnal.

Gali: Diganti dengan praktik lapangan. Jika masih kurang, bisa berikan laporan lapangan, tetapi tidak perlu ujian skripsi dan mencari-cari dosen.

Luthfiyah: Magang. Karena, dijurusanku (ilmu komunikasi) gak ada magang. Pengalaman cuma dapat dari praktikum saja, itupun dilakukan berkelompok. Kemampuan individunya jadi kurang terlihat.

Astari: Tugas akhir, disertasi.

Clay: UAS aja deh.

Caca: Mungkin UAS.

Syamsul: Dengan praktek langsung di lapangan untuk menentukan kelulusan.

Pandu: Ujian kompetensi seputar materi dari awal hingga akhir perkuliahan.

Olla: KTI dan atau PKL.

Kevin: Membuat makalah dari suatu mata kuliah.

Hasil dari data riset yang dilakukan secara online melalui Google Form oleh Unipedia kepada sepuluh mahasiswa “senior” menyatakan bahwa mayoritas dari mereka beranggapan jika skripsi merupakan suatu hal yang penting sebagai syarat dari kelulusan dan mayoritas dari mereka juga beranggapan jika syarat atau peraturan dalam pengerjaan skripsi tidak memberatkan. Dari sini dapat dibuktikan bahwa skripsi tidak sepenuhnya menjadi nightmare bagi setiap mahasiswa tingkat akhir. Mereka menyadari jika skripsi memang penting untuk diadakan.

“Menurut saya, skripsi itu sangat penting. Karena, dari situ mahasiswa bisa membuat suatu penelitian ilmiah. Selain mahasiswa itu berargumentasi, dia juga bisa membuktikan apa yang telah didapatkan sewaktu kuliah tidak sia-sia. Lebih penting lagi jika hasil skripsi dari mahasiswa tersebut menjadi jurnal ilmiah.” ungkap Risma Dwi Arisona, M.Pd, seorang Dosen muda di Institut Agama Islam Negeri Ponorogo.

Namun, berbeda pendapat dengan Akhirul Aminulloh, S.Sos., M.Si, seorang Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Tribhuwana Tungga Dewi, ia menganggap bahwa penting tidaknya skripsi tergantung dari kebutuhan dan tujuan mahasiswa setelah lulus.

“Jika mahasiswa tersebut setelah lulus kuliah nantinya akan melakukan orientasi pada keilmuan, maka skripsi itu sangat penting.” ujarnya.

“Sedangkan jika mahasiswa setelah lulus kuliah orientasinya pada pekerjaan praktisi, maka sebaiknya skripsi diganti dengan tugas akhir berupa project planning atau bisnis planning, atau yang lainnya sesuai preferensi mahasiswa.” tambahnya.

Saat ini beberapa universitas mulai mengadakan tugas akhir karya sebagai pengganti skripsi. Tugas akhir karya merupakan sebuah karya ilmiah yang disusun berdasarkan hasil penelitian suatu masalah yang dilakukan secara seksama melalui metode ilmiah dan sistematikan penulisan yang benar. Seperti yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang, terdapat beberapa jenis tugas akhir karya, yaitu artikel jurnal, karya berbasis keilmuan, karya berbasis peminatan, magang, kewirausahaan dan prestasi. Keunikan dari tugas akhir karya adalah terdapat beberapa tugas akhir yang dapat dikerjakan secara berkelompok.

Tugas akhir karya (TAK) merupakan suatu inovasi dari skripsi konvesional pada umumnya. Dengan adanya TAK ini dapat membuat mahasiswa memilih untuk mengerjakan tugas akhir yang ia inginkan sesuai dengan minat dan passion yang dimiliki setiap individu. Sehingga, TAK menjadi pilihan yang sangat intimate dan personal.

Namun, bukan berarti dengan adanya inovasi baru dalam tugas akhir membuat skripsi dianggap gagal atau tidak bermanfaat. Karena, pada beberapa perusahaan skripsi dianggap sebagai penilaian yang penting dan dominan untuk menentukan lulus atau tidaknya dalam sebuah interview.

“Secara global skripsi tidak menjadi bahan pertimbangan dan tidak memiliki point khusus. Namun, ketika proses interview baik saat menghadap HRD maupun user akan memunculkan point tersendiri dimana skripsi itu dibutuhkan.” jelas Arief Romdlon, Manager Human Capital Pertamina Plaju, Sumatra Selatan.

“Biasanya HRD akan menanyakan bagaimana proses skripsi, sehingga terlihat bagaimana interaksi komunikasi dengan narasumber. Dan ketika interview dengan user atau direktorat teknis, terkadang juga ditanyakan mengenai isi skripsi yang bersangkutan. Sehingga skripsi sangat dominan dalam penilaian, karena penguasaan dia tentang skripsi.” tambahnya.

Maka dari itu, penting atau tidaknya skripsi kembali kepada masing-masing individu mahasiswa. Tergantung pada tiap individu merancang masa depannya seperti apa. Namun, jika di universitas tidak ada pilihan selain skripsi untuk menentukan standar kelulusan, maka kerjakanlah skripsi dengan sepenuh hati. Hal apapun yang dilakukan dengan kemauan dan tekat yang kuat akan terasa ringan. Jangan berusaha lari dari sebuah masalah, ingat lah orang tua di rumah dan orang disekitarmu yang selalu menyemangatimu.

Teruntuk para mahasiswa di luar sana yang saat ini sedang berjuang dan mengalami kesulitan, kesusahan atau kendala apapun dalam mengerjakan skripsi, tetap semangat. Tidak ada suatu usaha yang sia-sia. Tidak ada pula suatu usaha yang mengkhianati hasil. Mungkin kamu merasa lelah, tetapi senyuman dan rasa bangga orang tua yang melihat kamu menjadi seorang sarjana merupakan suatu hal yang tak ternilai harganya. (BN)

Bunga Nadzifa
Author

Write A Comment